Selasa, 17 Mei 2011

POTRET KEMISKINAN DI INDONESIA

PENDAHULUAN
pada kesempatan kali ini,saya akan menjelaskan tentang potret kemiskinan di indonesia.
"Kita tidak dapat menghadapi berbagai persoalan itu hanya pada tingkat nasional, tetapi diperlukan penyelesaian yang lebih komprehensif dan kerja sama yang lebih baik di antara negara-negara yang ada di kawasan Asia Tenggara,'' kata Presiden Yudhoyono saat membuka KTT ke-18 ASEAN di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Sabtu (7/5) kemarin.

Pada pertemuan puncak KTT ASEAN 2011 selama dua hari dari 7-8 Mei 2011 ini, para pemimpin negara ASEAN yang hadir adalah Sultan Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah Mu'izzaddin Waddaulah, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Perdana Menteri Laos Thongsing Thammavong, Perdana Menteri Malaysia Dato' Sri Mohd Najib bin Tun Abdul Razak, Perdana Menteri Myanmar Thein Sein, Presiden Filipina Benigno S. Aquino III, Senior Minister Singapura S Jayakumar yang mewakili Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva, dan Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung.

Pertemuan puncak ini juga turut dihadiri oleh Sekjen ASEAN Surin Pitsawan, para menteri KIB II, para duta besar negara sahabat, para pimpinan parlemen ASEAN, dan organisasi pemuda dan sosial kemasyarakatan yang ada di ASEAN.



Tantangan ASEAN

Dalam pidato pembukaannya, SBY menyampaikan potret ASEAN melalui sejumlah tantangan. Beberapa tantangan yang penyelesaiannya perlu dilakukan kerja sama negara-negara di kawanan ASEAN antara lain ketahanan pangan dan energi, konflik bersenjata, kejahatan lintas negara, dan bencana alam.

Ketahanan pangan dinilai SBY merupakan masalah serius sekaligus tantangan yang sangat berat bagi ASEAN. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama ASEAN yang nyata dan efektif, untuk lebih menekankan program yang berorientasi pada kesiapan menjamin ketersediaan pangan rakyat. Salah satu langkah cepat yang harus kita ambil adalah pelaksanaan ASEAN Integrated Food Security Framework secara komprehensif, utamanya dalam penelitian dan pengembangan, serta investasi dalam bidang pangan, kata SBY.

Secara khusus, SBY menegaskan yang perlu diperhatikan adalah memformulasikan sistem cadangan pangan di ASEAN yang dapat memungkinkan terbantunya para petani untuk keluar dari kemiskinan.

Begitu juga masalah ketahanan energi, ASEAN harus mencari solusi yang inovatif. Sumber-sumber energi baru dan terbarukan sangat diperlukan untuk meningkatkan keanekaragaman pasokan energi dan mengurangi konsumsi energi yang berdampak negatif pada lingkungan. ''Pemanfaatan energi yang terbarukan, dan implementasi program ASEAN Energy Efficiency and Conservation, dapat mempercepat pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara anggota ASEAN,'' kata SBY.

ASEAN juga harus memperkuat kerja sama kawasan dalam pengembangan sumber-sumber energi terbarukan dan energi alternatif, termasuk hydro-power dan panas bumi. ''Kita harus memajukan pembangunan pusat-pusat penelitian dan pengembangan energi terbarukan di kawasan kita,'' imbuhnya.

Tantangan yang harus diselesaikan bersama adalah konflik bersenjata. Menurut SBY, para pemimpin ASEAN wajib merespons dinamika konflik yang bisa memengaruhi citra ASEAN dan perdamaian di kawasan. ASEAN harus mampu memfasilitasi forum dan dialog terbuka jika terjadi konflik antarsesama anggotanya. Karena salah satu tujuan pembentukan ASEAN adalah untuk mewujudkan perdamaian dan memajukan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

ASEAN wajib merespons dinamika konflik yang bisa memengaruhi citra ASEAN dan perdamaian di kawasan ini. ''Jika terjadi konflik, ASEAN harus mampu memfasilitasi forum dialog terbuka dengan tujuan menciptakan perdamaian bersama,'' ujarnya.

Kejahatan lintas negara juga perlu menjadi perhatian. SBY mencontoh adanya pergolakan politik di Timur Tengah yang masih terus berlangsung, ternyata diikuti dengan meluasnya kekerasan. Kejahatan seperti ini baru saja dialami Indonesia terhadap WNI yang disandera dan dibajak oleh para perompak akibat pemerintah di negara bersangkutan tidak mampu menanggulanginya.

Di perairan internasional, pembajakan dan perompakan di laut semakin rawan. Kita juga dihadapkan pada sindikat kejahatan dan terorisme internasional, kata Kepala Negara.

Selain pergolakan politik, terjadinya migrasi penduduk dalam jumlah besar, tidak teratur dan tidak legal, dapat menyebabkan berbagai masalah politik, sosial, dan keamanan yang tidak hanya di negara tujuan (countries of destination) tetapi juga di negara yang dilalui (transit countries).

Tantangan lain adalah bencana alam seperti yang baru-baru ini terjadi di Jepang dan 7 tahun lalu di Aceh. Menurut SBY, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama, perlunya ditingkatkan kapasitas dan koordinasi regional melalui pembentukan ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre). Kedua, melaksanakan latihan bersama penanganan bencana alam seperti yang telah dilaksanakan dalam ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise di Manado bulan Maret lalu, yang diketuai bersama oleh Indonesia dan Jepang. Oleh karena itu, untuk menghadapi itu semua, negara-negara di kawasan ASEAN tidak dapat berdiam diri dan berpangku tangan. ''ASEAN perlu lebih tanggap terhadap realitas yang berubah dengan sangat cepat untuk menyelesaikan dan mengatasi berbagai tantangan, dan untuk meraih peluang yang muncul baik di dalam maupun di luar kawasan,'' tegas Presiden.

PENUTUP

jadi,untuk seluruh masyarakat indonesia mari kita basmi kemiskinan di indonesia,dengan memberi produktivitas kepada mereka(rakyat miskin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar